Berkomunikasi dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang budaya yang berbeda akan mengurangi efisiensi komunikasi atau kurang efektifnya saat berkomunikasi. Menurut salah satu prinsip komunikasi, semakin mirip latar belakang sosial dan budaya, maka semakin efektif komunikasi tersebut. Prinsip tersebut menggambarkan lebih lanjut bahwa perbedaan budaya dalam masyarakat membuat komunikasi menjadi kurang efektif. Sebagai individu, komunikasi penting untuk menunjukkan keberadaannya, karena individu cenderung memiliki rasa persatuan dengan orang yang memiliki latar belakang budaya yang sama atau mirip. Perbedaan budaya antar individu menyebabkan sebuah hubungan menjadi kurang efektif karena melalui dengan cara pandang individu yang berbeda-beda dapat menumbuhkan berbagai persepsi positif maupun negatif.
Pada saat awal saya menempuh pendidikan di Universitas
Andalas, saya berteman dengan beberapa mahasiswa yang berbeda suku, etnis,
serta agama. Dikampus inilah saya benar-benar merasakan keanekaragaman membaur
menjadi satu. Seiring dengan berjalannya waktu , interaksi diantara kami sudah
semakin terbiasa dan tidak terasa canggung lagi saat pertama kali bertemu.
Tetapi terlepas dari semua itu, saya sangat bersyukur atas semua ini dapat merasakan kebersamaan dalam perbedaan. Namun, bukan berarti perjalanan dan alur pertemanan diantara saya dan teman-teman saya benar-benar bebas dari hambatan-hambatan. Hambatan itu sendiri salah satunya dengan teman saya yang berasal dari Bukittinggi. Secara spesifik memang tidak ada perbedaan yang mencolok selain dari bahasa yang digunakan. Sehingga saya sendiri tidak terlalu sulit berkomunikasi dengan teman-teman yang berasal dari Kota Bukittinggi. saya sendiripun berasal dari Kota Padang dan kami sama sama berasal dari suku minang.
Namun terkadang saya mengalami kebingungan memahami kata-kata mereka ketika sedang mengobrol. Pernah saat itu saya berbicara dengan Faje, teman saya yang berasal dari Kota Bukitinggi. Saat kami ingin keluar dari pintu kelas karena sudah berakhirnya pembelajaran, tiba-tiba Faje berkata bahwa dia merasa lapar atau istilah di daerah bukittingi yaitu “litak”. Lalu saya memberi respon kepada faje untuk segera pulang kerumah agar bisa beristirahat. Tetapi faje merasa kebingungan mengapa saya memberikan feedback untuk segera beristirahat.
Padahal maksud dari faje mengatakan “litak” tersebut adalah dia merasa lapar. Lalu saya pun juga merasa kebingungan sebab istilah “litak” di Kota Padang sendiri adalah “capek”. Hingga pada akhirnya, kami satu sama lain menjelaskan istilah “litak” dari daerah kami masing-masing. Dan perbedaan budaya tersebut akhirnya dapat diatasi.
Hal tersebutlah yang membuat saya memahami betul bahwa
setiap individu memiliki berbagai budaya yang berbeda sehingga apabila perbedaan
itu tidak ditanggapi secara tepat akan memunculkan konflik.
Pada akhirnya saya menemukan solusi yang saya rasa bisa
diterapkan guna menyelesaikan masalah ini yaitu mengasah kemampuan saya untuk
bisa menyesuaikan diri dengan suasana lingkungan sekitar.

Komentar
Posting Komentar